Pagi
ini mentari cerah bersanding dengan angin sejuk, dua makhluk Allah yang
sedari tadi tersenyum menemani di bawah rindangnya pohon samping
rumahku. Aku memainkan jemariku diatas keybord sambil mencoba memutar
otak untuk bernostalgia ke beberapa tahun silam tepatnya disaat aku
sedang berhadapan dengan Ujian Akhir Nasional (UAN). Berhadapan dengan
UAN merupakan saat-saat yang paling mendebarkan sepanjang hidupku kala
itu.
Bukan
berlebihan ketika aku menyebut itu sebagai momentum yang “syakral”
dengan posisi sebagai seorang pelajar. Bagaimana tidak selama 14 tahun
duduk di bangku sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai dengan kelas
III SLTA (sekarang berubah nama menjadi kelas XII) akan dtentukan
hanya selama 3 hari bersama 3 Mata Pelajaran berbeda yaitu Matematika,
Bahasa Inggris, dan Ekonomi (untuk jurusan IPS).
Aku
juga menyebut UAN tidak lebih sebagai gerbang untuk masuk kedunia
pendidikan yang sesungguhnya karena ketika Aku bisa membukannya maka Aku
akan menemukan hal baru yang belum pernah Aku ketahui sebelunya, tapi
jika tidak bisa membukanya maka itu berarti Aku gagal untuk mendapatkan
sensasi baru dalam dunia pendidikan.
Berangkat
dari sana kemudian Aku berasumsi bahwa UAN sangat menentukan
keberlangsungan estafet pendidikanku karena jika seandainya salah satu
dari 3 Mata Pelajaran ada yang kurang dari nilai standar yaitu 4,25
(Nilai standar UAN Episodeku) maka Aku akan dinyatakan sebagai pelajar
yang Tidak Lulus UAN, jika tidak lulus berarti tidak bisa melanjutkan ke
perguruan tinggi dan itu artinya proses belajar formalku terpaksa harus
“The End” sampai disitu.
Semua
itu belum termasuk sanksi moral yang akan Aku terima jika seandainya
tidak lulus UAN, maka berbagai macam ketakutan seakan menjadi hantu
seram yang setiap saat menyertai. Bagaimana nanti Ibu-Bapakku?,
saudara-saudaraku?, tetanggaku?, teman-temanku? dan bahkan Dunia tentang
Aku?. Perasaan inilah yang mungkin juga di rasakan oleh jutaan pelajar
lain yang terkena dampak dari kebijakan tak berpihak ini.
Teringat
betul bagaimana ketika Aku pertamakali masuk kelas untuk mengikuti UAN.
Aku galau,,,,, gelisah,,,,, kesal,,,,, bahkan sempat berfikir bahwa UAN
hanyalah produk dari sebuah kebijakan yang sama sekali tidak menjunjung
tinggi nilai keadilan, kenapa Ujian Akhir semacam ini tidak didasarkan
pada minat dan bakat dari masing-masing Pelajar?, sederhananya Aku dan
siapapun yang membaca surat Curhat ini pasti punya kelebihan dan
kekurangan yang tidak sama tapi kenapa kemudian dititik evaluasi kita di
paksa untuk masuk kedalam “kamar” yang sama?.... standar kelulusan yang
ditetapkan juga “dipukul” rata, sedangkan kuwalitas sekolah di
Indonesia??!!!.....
Hhhmmmmm,,,,,,,,….
Sangat belum bisa dikatakan sama.
Berontak
tapi tak bisa berbuat banyak adalah gambaran keadaanku waktu itu, tapi
Alhamdulillah begitu pengumunan kelulusan datang akhirnya Aku dan
semua teman-teman sekelasku dinyatakan sebagai peserta Ujian yang
“Lulus” UAN. Jujur Aku tak menghiraukan nilaiku, yang aku rasakan
hanyalah senang dan bersyukur karena akhirya Aku dan tema-temanku bisa
keluar dari “Jebakan” UAN.
Aku
senang tapi juga miris bagaimana tidak belum lama setelah hari
pengumuman kelulusan berbagai media memunculkan kabar yang bagiku sangat
memilukan. UAN mengakibatkan banyak pelajar yang (maaf) Tidak Lulus
merasakan trauma dahsyat mulai yang shock sampai dengan yang mencoba
bunuh diri dengan berbagai cara. Na’udzubillah…….. seakan bertolak belakang dengan suara-suara sumbang; “UN mampu meningkatkan prestasi pelajar anak Negeri”.
“SITUBONDO, SENIN- Ujian
Nasional tingkat SMA sudah tujuh bulan berlalu, tetapi bagi Edi Hartono
(19), aib karena gagal UN masih terus terasa menyesakkan. Setelah
mengurung diri di rumah neneknya, mantan siswa SMA di Besuki itu
akhirnya bunuh diri,” -Kompas, Senin (1/12/08) dini hari-
Achhhhhhh,,,,,,,,,
Semakin stresss jika harus terus memikirkan itu.
“Allahummahdina fiiman haadain………………………!!!”
********
Sesekali
Aku mengusap keningku sembari mencari posisi duduk yang lebih nyaman.
Sinar mentari pagi yang sedari tadi menemani perlahan bergeser meninggi,
sedangkan angin masih tetap dengan senyum damainya sedamai Iman dalam
hati atau kasih berdasar ridha Ilahi. Kembali Aku meneruskan lamunan
dalam goresan sejarahku.
UAN
sekarang berubah nama menjadi UN (Ujian Nasional), Pelajaran yang di
ujikan juga tidak lagi sama seperti Episodeku dulu tapi apapun nama yang
dipakai UN bagi saya hanya justru akan menimbukan berbagai masalah
baru, masalah untuk masalah dan bukan solusi untuk masalah.
Aku
merasakan ada semacam dilema berantai dalam system pendidikan kita saat
ini khususnya ketika berbicara masalah UN. Lihat saja, guru seakan
merasa dihantui dengan kepala sekolah jika seandainya ada siswa yang
tidak lulus pada mata pelajaran yang diajarkan. Kepala Sekolah juga
merasa takut dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) setempat
seandainya siswa disekolahnya tidak lulus 100%, UPT juga seakan
“terancam” oleh Kepala Dinas dimasing-masing kota atau kabupaten dan
begitu seterusnya sampai pada tingkatan paling atas. Akibatnya banyak
sekolah yang secara sadar maupun tidak sudah berani mematahkan nilai
kejujuran yang sudah dibangun sekian lama hanya demi mendapatkan
pradikat bahwa siswanya lulus 100%.
Ah kejamnya,,,,,,,,
“UN melawan Hantu Berantai”
Pada
dasarnya evaluasi memang menjadi satu hal yang tidak bisa kita pandang
sebelah mata ketika kita berdiskusi masalah apapun karena dengan
evaluasi maka kita akan lebih merasa mantab untuk menentukan arah kemana
kita akan meneruskan langkah. Tapi yang pelu menjadi catatan adalah
evaluasi bukan asal evaluasi, evaluasi membutuhkan kejernihan hati serta
kestabilan emosi, bukan produk dari emosi sesaat.
************
Aku
melihat jam dipergelangan tangan kananku tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul 08.00 Wib. Terdengar perempuan memanggil dari dalam
rumah,
“Nak, makan dulu,,, nanti diteruskan lagi…!!!”
Iya
itu suara lembut Ibu, sungguh panggilan khas penuh kasih yang mampu
dengan seketika menyejukkan hati. Emosi dari efek nostalgiaku seketika
berubah menjadi senyum indah yang pernah kumiliki. Akupun tersenyum
sambil menbalasnya.
“injjeh Buk,,, niki sampun mantun ketiknya..!!
Segera Aku memenutup layar miniku dan bergegas masuk kedalam rumah sambil bergumam dalam hati..
“Robbana aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhirati khasanah waqinaa ‘adzaa bannaar”
************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar